Selasa, 01 Mei 2012

Bersepeda di Kota Besar Sebenarnya Tidak Sehat

Ada nasib malang yang harus dihadapi oleh warga yang tinggal di pinggiran kota namun beraktivitas di tengah kota, yaitu kemacetan.

Di Jakarta, misalnya. Bagi warga yang memiliki motor atau mobil pribadi/dinas tentu tidak akan menghirup asap rokok penumpang lain, berdesakan, menghadapi jadwal yang tidak tentu atau kecopetan seperti yang sering dialami oleh para pengguna jasa angkutan umum. 


Tetapi pengguna motor atau mobil pribadi/dinas harus menghabiskan waktu minimal dua sampai lima jam di jalanan setiap harinya, tak berbeda jauh dengan waktu yang dihabiskan oleh pengguna angkutan umum. Ini berlaku bagi mereka yang tinggal di kawasan Tangerang, Depok, Bekasi, Cibubur atau Bogor.

Lelah, kesal, stres sampai menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan hanya untuk membeli bahan bakar adalah ongkos tambahan yang harus dibayar pengguna kendaraan pribadi.

Padahal uang sebanyak itu akan sangat bermanfaat jika dikumpulkan untuk investasi pendidikan anak atau hari tua.

Kemudian munculah beberapa kelompok pekerja urban yang mengenalkan moda transportasi sepeda untuk berangkat dari tempat tinggal ke tempat kerja.

Niatnya memang mulia, antara lain ingin membantu mengurangi kemacetan, mempersingkat waktu tempuh dan agar tubuh lebih sehat. Selain itu, bersepeda memang mengasyikkan. Tubuh bergerak, berkeringat dan dalam waktu beberapa minggu kemudian berat badan bisa berkurang.

Lalu Anda pun merasa sudah sehat secara jasmani. Tapi apa benar bersepeda di kota yang berpolusi berat itu menyehatkan? 

Menurut situs USA Today, hasil penelitian membuktikan bahwa bersepeda – meski sebentar – di tengah kemacetan mampu meningkatkan risiko gangguan kesehatan lebih besar.

Artikel yang dirilis pada 9 September 2010 itu mengatakan, pesepeda akan menghirup gas beracun dua kali lebih banyak dari para pengguna mobil karena orang yang bersepeda bernapas lebih dalam dan lebih cepat.

Gas yang dihirup pesepeda masuk melalui mulut atau hidung ke paru-paru lalu menyebar lewat darah. Efeknya ialah kerusakan secara perlahan tapi pasti pada jantung dan paru-paru.

Risiko yang lain ialah empat kali lebih besar peluangnya untuk cedera atau meninggal dunia karena bersinggungan dengan mobil, motor atau bus umum. 

(Untuk kasus Jakarta, ancaman terbesar ialah motor yang sering menyerobot masuk ke trotoar hingga melawan arus, angkot sampai jenis mikro bus yang ugal-ugalan.)

Tapi tak perlu khawatir karena pada prinsipnya bersepeda itu baik untuk kesehatan. 

Berikut beberapa tips mengurangi resiko gangguan kesehatan akibat bersepeda di tengah kemacetan, seperti yang dimuat di situs BBC pada 28 Januari 2011:

1. Pilihlah rute bersepeda yang banyak pohonnya.

2. Jangan terlalu sering bersepeda di belakang bus atau mobil yang mengeluarkan asap hitam pekat atau kendaraan bermesin diesel.

3. Gunakan masker penutup mulut dan hidung seperti yang digunakan oleh para dokter dan perawat di rumah sakit/klinik kesehatan. Dan masker itu harus diganti tiap kali habis dipakai.

USA Today memberi saran, jika Anda ingin bersepeda yang sehat dan aman, pindahlah ke negeri Belanda.

Bagaimana tanggapan Anda?

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar